Showing posts with label manajemen. Show all posts
Showing posts with label manajemen. Show all posts

Wednesday, June 24, 2015

Pemulung Ganteng itu kini Kuliah S2 di ITB

Jakarta - Hari cerah itu Wahyudin (24) tersenyum bangga bercerita akan perubahan yang dialaminya. Sebuah capaian yang mungkin siapa pun tak akan menyangka, tetapi terbukti benar adanya.

Dua tahun lalu Wahyu masih ditemui memanggul karung berisi kardus-kardus bekas yang siap dijual per kilogramnya. Sebuah profesi yang dia lakoni sejak usia 10 tahun dan duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar, pemulung.

Tak seperti kebanyakan anak yang barang tentu didukung orang tua untuk sekolah, Wahyu harus pikir berkali-kali untuk minta restu kedua orang tuanya untuk meneruskan jenjang SD. Saudara-saudaranya bahkan harus putus sekolah dan membantu ayahnya bekerja untuk sekedar mengisi piring.

"Saya waktu kecil SD itu mikir, 'aduh habis deh nih, kalau kakak-kakak enggak sekolah berarti saya enggak sekolah dong? Karena kan satu sumber keuangannya'. (Tapi) saya enggak mau terima nasib, saya harus keluar dari rantai kemiskinan," ungkap Wahyu saat kembali berbagi cerita di Kantor Redaksi detikcom, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jumat (19/6/2015).

Wahyu adalah anak sulung dari tiga bersaudara dan ibunya adalah istri kedua dari ayahnya. Dari pernikahan dengan istri pertama, ayahnya memiliki lima orang anak.

Ayahnya bekerja sebagai buruh tani yang juga melayani jasa ojek. Ibunya pun bertani dengan menggarap tanah orang yang hasilnya hanya cukup untuk makan, bukan untuk sekolah.

"Saya putusin jalan ke tetangga untuk mulung. SD kebutuhan makin besar saya tambah mulung dan gembala kambing, udah SMP tambah jualan gorengan, SMA tambah mulung, gembala kambing, mengajar les disambi on air jadi penyiar, jualan susu murni, dagang asongan di pinggir rel, semua ada 7 profesi di luar sekolah," papar Wahyu penuh semangat.

Memikul 7 profesi itu pun tak lantas membuat prestasinya mengendur. Peringkat di kelas tetap dia sabet hingga akhirnya mendapat jalan untuk berkuliah.

"Sekolah tetap dapat ranking, di S1 juga IPK saya 3,85," ujar dia.
Wahyu menempuh jenjang sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka). Dia diwisuda pada tahun 2013 dan masih berprofesi sebagai pemulung.

"Saya lulus dari Uhamka 2013 akhir, di situ saya memang sebelum lulus udah dapet beasiswa S2 duluan karena waktu itu diwawancara detikcom bulan Maret, belum lulus. Dari saya pribadi setelah muncul di detikcom itu saya banyak dikenal orang dan dari Kemendikbud datang ke rumah saya. Salah satu stafnya bilang, saya dapat beasiswa unggulan walau tanpa tes. Saya boleh kuliah di luar negeri, bebas pilih negara mana saja," tutur pemuda itu.

Waktu yang ada di angan Wahyu hanya satu hal, luar negeri pertama yang ingin dia injak adalah kota Mekah di Arab Saudi untuk beribadah. Selain itu dia tak mau dan akhirnya memutuskan untuk ambil beasiswa di dalam negeri saja.

Berkonsultasilah Wahyu kepada pihak kementerian dan itu dikabulkan. Program Magister of Bussiness Administration (MBA) ITB kampus Jakarta dia tunjuk sebagai kelanjutan dari langkahnya, namun harus melalui tes.

"Waktu saya mau ke ITB ada tes bahasa Inggris dan matematika nilainya 7,8. Toefl-nya harus 475 kalau tidak salah. Saya belum pernah tes karena orang tua sederhana, enggak pernah kursus bahasa Inggris sama sekali tiba-tiba mau S2 pelajarannya full English," kata dia.

Tapi tak ada halangan yang tak bisa dilalui, pikir dia. Mulailah Wahyu belajar bahasa Inggris di dapur dan ditemani oleh temannya yang bernama Rizky Yusuf.

Awalnya dia hanya belajar tulisan saja, sementara di perkuliahan dia butuh untuk lancar berkomunikasi. Kursus English Conversation? Mahal!

Akhirnya ketika sedang ke Pasar Jatinegara, Jakarta Timur dia melihat ada orang asing sedang berjalan-jalan dan dipandu seorang tour guide perempuan. Dia tinggalkan dulu karung memulung dan dagangan lainnya untuk 'merayu' sang tour guide agar bisa menggantikan.

"Saya bilang sama Mbak tour guide-nya kalau saya mau kuliah, saya pemulung, saya enggak punya uang buat kursus jadi saya mau jadi tour guide biar praktik langsung buat tes wawancara. Sambil becek-becek nyeker (tak beralas kaki, -red) saya keliling-keliling dan jelaskan tentang Jatinegara," kenang Wahyu.
"Bagaimana, Mister? Bahasa Inggris saya jelas enggak?" tanya dia waktu itu dan dijawab, "Oh iya, jelas," dalam bahasa Inggris pula.

Rasa percaya diri sedikit meningkat saat itu, tetapi Wahyu masih belum puas. Sedikit berdandan rapi, Wahyu pun memberanikan diri untuk menginjakkan kaki ke Pondok Indah Mall dan ke arena ice skating di Mall Taman Anggrek. Sekedar untuk bertemu bule.
Akhirnya dengan modal berbincang dengan 3 orang asing, Wahyu lolos tes. Sukseslah dia menyandang status sebagai mahasiswa magister ITB.

Sejak kecil dia mengumpulkan uang untuk sekolah, dan kini dia sudah merengkuh magister. Semua itu berawal dari semangat dan karung yang selalu dipikul saat memulung.

"Ketika S2 ini pun prosesnya hampir sama, saya menyamar, saya sembunyikan identitas pemulung saya. Saya pakai baju bagus dibeliin kakak angkat saya, kak Muhammad Habsyi. Pas semester 2 baru mereka tahu saya pemulung dan mereka semua pada kaget," tutur Wahyu.

"Saya terbiasa dari kecil itu walau pun saya miskin, saya gembel, saya enggak mau orang-orang itu ngerendahin saya. Saya selalu menyembunyikan identitas saya, kalau saya sedih saya simpan sendiri kalau bahagia saya share ke orang-orang," ungkap dia melanjutkan.

Berceritalah dia bagaimana dahulu selalu menyembunyikan kartu tagihan SPP hingga S1 dari orang tua kandungnya. Disembunyikannya kartu itu di bawah bantal agar ibunya tak tahu bahwa biaya kuliah per semester adalah Rp 5.250.000.

"Kalau kartu bayaran itu engga boleh kasih tahu orang tua, harus taruh di bawah bantal sendiri, bayaran saya harus pusing sendiri, nangis sendiri, laporan ke guru BP izin setiap semester itu sudah biasa waktu kuliah di Uhamka. Tapi kalau saya dapat ranking, juara, terpilih jadi pemuda pelopor kota Bekasi itu saya share saya kasih tau Emak. 'Saya ranking loh, saya dapat juara ini loh Mak'," kata pemuda tersebut.
Ya, buah dari niat membahagiakan orang tua itu pun amat manis dikecapnya. Kini Wahyu hampir menyelesaikan jenjang magister di ITB.

Masih ingat dia ketika dahulu harus memulung mulai pukul 01.00 WIB sampai waktu subuh. Usai mandi dan berpakaian seragam, dia berjualan gorengam dan dititipkan di pos satpam.
Sepulang sekolah setelah istirahat sebentar dia kembali memulung hingga pukul 22.00 atau 23.00 WIB. Tak jarang Wahyu tidur hanya 2-3 jam di tumpukan karung hasil memulung.

"Setiap ke sekolah saya bawa balsam atau minyak kayu putih. Saya oleskan dekat mata supaya panas dan tidak mengantuk. Saya tidak mau ketinggalan pelajaran hanya karena tertidur. Saksinya adalah teman-teman SMA dan kebiasaan itu terus sampai saya kuliah S1," tutur Wahyu.

Di akhir 2013 bisa dibilang karier sebagai pemulung hampir berakhir. Dia mendapat modal dari seorang WNI di Australia sebesar Rp 4 juta yang kemudian dipakai untuk merintis usaha ternak entok (sejenis itik, -red).
"Setelah S2 saya mau ambil S3 gelar PhD ke luar negeri," ucap Wahyu sambil menyunggingkan senyumnya.
(bpn/van)


Wednesday, December 17, 2014

AUSTRALASIAN CONFERENCE ON BUSINESS AND SOCIAL SCIENCES 2015

AUSTRALASIAN CONFERENCE ON BUSINESS AND SOCIAL SCIENCES 2015, SYDNEY
IN PARTNERSHIP WITH THE JOURNAL OF DEVELOPING AREAS (The JDA, USA)


Date: April 13 – 14, 2015
Venue: Central Queensland University - Sydney Campus, 400 Kent Street, Sydney NSW 2000, Australia

Conference Website: https://www.aabss.org.au/conference/acbss-2015-sydney


CALL FOR PAPERS

The ACBSS Conference 2015 in partnership with the Journal of Developing Areas invites conceptual, theoretical, empirical, and experimental research papers and short communications for presentations in any field of business or social sciences at its upcoming international conference in Sydney, Australia. The conference is expected to disseminate knowledge and build network with global academics, researchers, practitioners, policymakers, and publishing outlets such as the JDA and four AABSS journals.

CONFERENCE TRACKS

•       Accounting – auditing, business, social and environmental Business – SMEs, MNEs, strategy, CSR, environmental, sustainable and responsible business
•       Economics – micro, macro, managerial, international, financial, public, regulatory, environmental, development, agricultural, natural resources, climate change, knowledge
•       Education - pedagogy, learning and teaching, educational psychology, curriculum and instruction, e-learning, blended learning, flipped, pathway, enabling, work integrated learning, MOOCs, executive training, training and development, educational leadership
•       Entrepreneurship – product, innovation, social, political, knowledge, corporate venturing, digital media
•       Finance – corporate, international, green finance, financial reporting, public finance, financial markets, financial services, behavioural
•       International Business – entry modes, strategy, expansion, mergers & acquisitions, trade, CSR
•       Management – human resources, international HR, business, cross cultural, corporate governance, financial resources, gender issues, technological resources, natural resources, knowledge, ICT
•       Marketing – international, consumer research, market research, policy research, sales research, pricing research, distribution, advertising, packaging, product, media
•       Social Business – Socially responsible enterprise, environmentally conscious enterprise, sustainopreneurship, and any other related topics
•       Social Sciences – anthropology, communication studies, demography, development studies, information and communication studies, international studies, journalism, library science, human geography, history, law, linguistics, political science, public administration, psychology, sociology

SPECIAL ATTRACTION: JOURNAL OF DEVELOPING AREAS (Ranked B in ABDC 2013/ERA 2010 Lists)

ACBSS 2015 gives participants an opportunity to publish their full-fledged conference papers in the Journal of Developing Areas (The JDA), which has been a highly recognised multidisciplinary international journal since 1966. The JDA’s Editorial Advisory Board includes eminent personalities as Economics Nobel Laureate Professor Eric Maskin and the World Bank Chief Economist Dr Kaushik Basu. Full-fledged submissions, which do not meet the JDA’s acceptance criteria, will be considered for publication in one of the following peer-reviewed journals:
•       Australian Journal of Business and Economic Studies (AJBES)
•       Australian Journal of Business, Economy and the Environment (AJBEE)
•       Australian Journal of Sustainable Business and Society (AJSBS)
•       Australian Journal of ICT Research (AJICTR)

Regardless of this, all the submissions that have been accepted for presentation will be published as conference proceedings with an ISSN.

FURTHER INFORMATION, SUBMISSION INSTRUCTIONS, REGISTRATION & PAYMENT
For further information, submission, registration and payment, please click on this link: https://aabss.org.au/conference/acbss-2015-sydney

KEY DATES

Abstract/Full Paper Submissions Close
Friday, February 20, 2015

Camera-ready Paper Submissions and Registration Deadline
Monday, March 16, 2015

Thank you and I look forward to meeting you at the conference.


Associate Professor Stephen Boyle
Conference Chair
Australian Academy of Business and Social Sciences Conference 2015
PO Box 12014
Sturt Street
Adelaide, SA 5000
Australia
E-mail: conference@aabss.org.au
www.aabss.org.au

Tuesday, December 2, 2014

Modal Sosial (Social Capital) untuk Pemberdayaan Sekolah


Saat ini saya sedang senang sekali membaca mengenai ’social capital’. Kalau diterjemahkan menjadi kata modal sosial. Konsep ini merupakan konsep ilmu social yang dipergunakan dalam spectrum yang luas. Modal social menjadi alat analisis dalam berbagai disiplin ilmu.

Ada satu artikel, tepatnya jurnal, yang saya telusuri dari internet, yang membahas tentang Modal Sosial dan Pemberdayaan Sekolah. Artikel tersebut dikarang oleh Dr. Jessica Harris dan disajikan pada Konferensi ICSEI di Auckland pada tahun 2008. Artikel lama ini menurut saya sangat bagus sekali untuk dibaca oleh para guru dan kepala sekolah, sehingga bisa membuat transformasi sekolah ke arah yang lebih baik. Untuk kompasiana, maka saya berusaha untuk menulis sesuai dengan kemampuan pemahaman saya.

Modal sosial memiliki beberapa tokoh penting yang memberikan definisi, antara lain yang disampaikan oleh James Coleman, Robert Putnam dan P. Bourdieu, dan Francis Fukuyama. Menurut Fukuyama (1995) modal sosial adalah ‘the ability of people to work together for common purposes in groups and organizations’(kemampuan orang untuk bekerja sama untuk tujuan bersama di dalam kelompok atau organisasi). Putnam menyatakan bahwa modal social adalah ‘value which is arises from reciprocity of networks and the norms within’ (disatu sisi berupa nilai - nilai yang muncul dari hubungan imbal balik dalam jaringan kerja dan norma-norma di dalam hubungan tersebut. Sosial capital di sekolah meliputi kekuatan dari kemitraan yang meliputi individu-individu, agensi-agensi, organisasi-organisasi, serta lembaga-lembaga yang mendukung sekolah serta yang didukung oleh sekolah.

Singkat cerita, kalau sekolah ingin berubah menjadi lebih baik, maka harus menggunakan dan menyekutukan empat buah modal, sehingga terjadi transformasi sekolah, keempat modal tersebut adalah :
1.       Modal Intelektual, merujuk kepada pengetahuan dan kecakapan - kecakapan yang berlaku di dalam dan untuk sekolah.
2.       Modal Finansial merujuk kepada sumber daya moneter yang dapat dipergunakan oleh sekolah.
3.       Modal Spiritual merujuk kepada tujuan - tujuan moral dan derajat koherensi antara nilai - nilai, keyakinan - keyakinan serta perilaku tentang kehidupan dan pembelajaran
4.       Modal Sosial merujuk kepada kekuatan kemitraan dan kerjasama formal dan informal yang berpotensi mendukung dan didukung oleh sekolah.

Keempat hal tersebut menjadi bagian dari ‘alignment transformation model’ dan menjadikan siswa sebagai unit terpenting dalam organisasi. Hal ini diperoleh dari lima hasil penelitian studi kasus di sekolah menengah pertama di masing -masing empat negara: Wales, Australia, Finlandia dan Inggris. Dari keempat modal tersebut, modal sosial merupakan sumber yang paling penting, yang apabila didukung oleh modal-modal lainnya, akan mendukung terjadinya transformasi sekolah kea rah yang lebih baik.


Transformasi sekolah tidak mesti harus dimulai dari modal keuangan. Sumberdaya manusia yang membentuk modal sosial dengan kemampuannya menjalin kerjasama, kemitraan, nilai-nilai dan norma-norma adalah yang terpenting. Bagaimana pendapat Anda?

Oleh: Ikan Koki
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com (Purnamasyae)

Monday, December 1, 2014

The 1st National Conference on Business, Management, and Accounting (NCBMA)

Business School Universitas Pelita Harapan menyelenggarakan "The 1st National Conference on Business, Management, and Accounting (NCBMA)" dengan tema "Menjembatani Kesenjangan antara Teori dan Praktek" yang bertujuan untuk mendorong akademisi dan praktisi untuk mempublikasikan makalah penelitian teoritis dan praktis pada bidang Bisnis, Manajemen dan Akuntansi melalui presentasi dan aplikasi penelitian.

Acara ini akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal     : Kamis, 19 Maret 2015
Waktu               : 07.30 - 16.30 WIB
Tempat             : Universitas Pelita Harapan
                           Jl. MH Thamrin Boulevard Lippo Karawaci - Tangerang 15811

Untuk investasi konferensi, prosedur pendaftaran, dan persyaratan lainnya silakan buka laman berikut : http://ncbma.global.uph.edu/


Terimakasih


Oleh: Ikan Koki

2015 INHA language training center winter school

Pendaftaran: DISINI

Oleh: Ikan Koki

The 9th Annual MarkPlus Conference 2015

Kami mengundang rekan-rekan untuk menghadiri
The 9th Annual MarkPlus Conference 2015
WOW MARKETING = CREATIVITY + PRODUCTIVITY
Thursday, 11 December 2014​ @​Ballroom Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place​

​Info lebih detail dapat melihat e-poster berikut atau kunjungi situsnya langsung
www.the-marketeers.com


Oleh: Ikan Koki

6 tipe kepemimpinan


Kepemimpinan, sebuah tema yang tak lekang oleh waktu. Mereka yang menguasai prinsip – prinsip kepemimpinan dan mampu menggunakannya dengan baik akan memiliki 4ta, Harta, Tahta, Cinta dan Kata yang saling berkolaborasi memberikan kesuksesan. Pribadi hebat mulai dari Alexander agung, Julius Caesar, Nabi Muhammad, Umar Bin Abdul Aziz, Mehmed II ( Muhammad Al Fatih) hingga tokoh – tokoh modern seperti Soekarno, Mahatma Gandhi, menggunakan prinsip – prinsip tersebut. Kepemimpinan mereka dikenang hingga sekarang mesti keberadaan mereka secara fisik tak lagi bersama, pemikiran – pemikiran mereka tak lekang oleh waktu.

Di abad modern sekarang, kepemimpinan tak hanya berkaitan dengan politik tetapi juga lembaga – lembaga lain seperti bisnis, social bahkan hingga pergerakan mahasiswa. Satu hal yang sangat penting, kepemimpinan berdasarkan oleh dua hal yaitu Kepribadian dan llingkungan. Artinya kepemimpinan tumbuh dari dalam diri akibat tempaan hidup dan kepemimpinan merupakan keilmuan yang dapat diamati, dipelajari, dan diterapkan oleh siapapun yang berani membayar harganya. Kepemimpinan tak muncul begitu saja, dari berjuta – juta orang di Indonesia tak semuanya bisa menjadi Pemimpin formal laksana Presiden, Kepala lembaga, Ketua organisasi dan lainnya tetapi mereka memiliki peranan non formal yang tak dapat di kesampingkan begitu saja. Karena banyak perubahan terjadi berawal dari pemimpin – pemimpin non formal

Kita sudah melewati dua paragraph yang cukup berat bukan? Mari kita istirahat sejenak tuk melanjutkan perjalanan kita tuk mengetahui seperti apa tipe – tipe kepemimpinan itu. Silahkan tarik nafas dalam – dalam dan rasakan setiap hembusan memberikan kenyamanan. Baiklah, mari kita lanjutkan.

Tipe – Tipe Kepemimpinan
Daniel Goleman seorang psikolog dan penulis “Emotional Intelegence” menjelaskan dalam salah satu literaturnya bahwa kepemimpinan dapat dibagi menjadi 6 tipe yaitu :
  1. Koersif
  2. Otoritatif
  3. Afiliatif
  4. Demokatis
  5. Pacesetting
  6. Coaching
Layaknya tipe – tipe kepribadian, dalam setiap manusia terdapat 6 tipe tersebut tetapi aka nada yang menonjol dan bahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh, kita tak hanya bisa menggunakan satu atau dua tetapi beberapa atau semuanya sesuai dengan kebutuhan situasi saat itu. Mereka yang hanya bertumpu pada satu gaya akan mampu mengatasi kesulitan pada situasi tertentu dan Berjaya tetapi akan mengalami hambatan pada situasi yang berbeda. Untuk lebih jelasnya mari kita menyelam dan memahami tipe – tipe tersebut lebih dekat.


1. Koersif

Pemimpin bertipe ini akan meminta sesuatu dikerjakan sesuai dengan yang ia inginkan. Ia tak mengenal alasan dan tidak mendengarkan orang lain. Baginya, tujuan sudah jelas hingga orang lain cukup mengerjakan apa yang ia inginkan. Pemimpin tipe ini akan banyak menggunakan kata – kata “Lakukan apa yang aku minta”, “Laksanakan saja” hingga orang – orang disekitarnya akan merasa kurang dihargai dan memungkinkan menimbulkan bibit – bibit perpecahan karena banyak orang – orang yang tidak menyukai tetapi takut akan kekuasaan yang dimiliki sang koersif hingga mereka hanya bisa berkata “dibelakang”. Para pemimpin koersif akan membuat system reward dan punishment menjadi tidak berarti. Hasil kerja dianggap sebagai kewajiban yang harus dilakukan. Sehingga motivasi para pengikut bisa jadi menurun karena kurangnya penghargaan.

Tetapi bukan berarti koersif selalu berimplikasi negative walaupun sebagian besar akan menghasilkan suasana yang tidak kondusif, kepemimpinan ini dibutuhkan saat organisasi atau lembaga dalam keadaan krisis sehingga dibutuhkan pengambilan keputusan yang cepat dan jelas tujuannya sehingga tidak dibutuhkan banyak orang untuk memberikan pendapat. Saat situasi membutuhkan kecepatan dan satu tindakan tanpa adanya inovasi untuk mengembalikan organisasi kembali “on the Track” Koersif dibutuhkan dengan kehati – hatian dan pertimbangan matang.


2. Otoritatif

Bedakan antara otoritatif dalam kepemimpinan dengan kata otoriter. Otoriter akan lebih dekat kepada tipe koersif, mereka tak ingin dibantah, berbeda dengan otoritatif yang mereka mendapatkan kekuasaan dengan persetujuan dan kejelasan visi yang ia paparkan. Otoritatif akan menjadikan orang lain bergerak menuju sebuah visi yang sudah ditentukan dengan bersemangat karena ia akan memberikan penghargaan yang pantas dan tujuan yang jelas tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Pemimpin tipe ini akan membawa perubahan – perubahan karena mereka adalah orang – orang yang percaya diri, mereka juga memiliki empati yang besar hingga orang lain akan merasa nyaman dalam kepemimpinan ini.

Sebagai agen perubahan, tipe otoritatif akan menjadi pemimpin yang efektif saat organisasi membutuhkan visi baru sesuai perubahan jaman. Mereka akan kesulitan saat krisis karena kadang saat krisis membutuhkan keputusan yang cepat dan kadang tak “manusiawi”.  Otoritatif akan menjadi bintang saat ia tak menghadapi tim yang “sekaliber” dirinya. Bila ia bergerak dengan sebuah tim ahli dengan kemampuan sama, maka ia akan merasa kesulitan dan dianggap “Angkuh” karena ia memandang orang lain tak memiliki pengetahuan yang sama dengannya.


3. Afilitatif

Dalam kalimat Ki Hajar Dewantara, seorang pemimpin memiliki tiga tugas yaitu menjadi Tauladan, Motivator dan Pemberi jalan bagi pengikutnya. Afilitatif adalah mereka yang berfungsi sebagai Pemberi Jalan. Ia akan banyak berkerja bersama pengikut/karyawannya. Ia akan banyak memikirkan mereka dan bagaimana agar mereka bahagia. Ia akan banyak bertukar pikiran dengan orang lain dalam membahas suatu masalah hingga orang lain akan merasa selalu dilibatkan dan suasana kerja menjadi kondusif. Ia menjadikan setiap orang merasa penting dan bisa mencurahkan ide – ide tanpa takut dicemooh atau dihina untuk kemajuan organisasi. Ia membuat orang lain merasa tergantung pada dirinya karena pemimpin afilitatif bagaikan lilin di tengah kegelapan. Ia menyinari banyak orang tetapi membakar dirinya.

Pemimpin afilitatif akan sangat terbuka dengan yang terjadi pada dirinya sama halnya dengan ia terbuka dengan apa yang terjadi pada orang lain. Bagi orang – orang yang tidak mengenalnya dengan baik akan mengira ia seorang yang lemah dan tidak berkepribadian karena ia selalu ingin orang lain bahagia. Tugasnya adalah membangun harmoni dan menjadikan hal tersebut sebagai kekuatan dalam organisasi. Layaknya seorang pelatih dalam kejuaraan dunia, ia akan memperhatikan pemainnya satu persatu untuk memastikan mereka siap dan pantas menjadi juara sebelum, saat dan sesudah pertandingan apapun hasilnya.


4. Demokratis

Pemimpin dengan tipe ini akan sangat senang melibatkan orang lain dalam pengambilan keputusan, mendengarkan pendapat mereka, memberikan arahan dan penjelasan akan suatu permasalahan. Ia membangun rasa percaya, hormat dan tanggung jawab dengan memberikan mereka kesempatan untuk bicara  mengenai solusi dan melaksanakannya saat telah menjadi konsensi bersama. Sehingga pemimpin mengetahui kekhawatiran dan harapan anggotanya akan sesuatu yang mereka hadapi. Ia tak menutupi apa yang terjadi agar mereka semua memiliki rasa kebersamaan. Ia tak bertujuan untuk menyenangkan semua orang tetapi menumbuhkan saling paham bahwa jalan yang mereka ambil adalah yang terbaik  terlepas dari pro kontra selama pertemuan.

Pemimpin demokratis akan berfungsi efektif saat semua anggotanya memiliki pola pemikiran yang sama tinggi dan setara hingga saat keputusan dicapai mereka dengan rasa tanggung jawab akan mampu menjalankannya dengan baik, bila kelompok mereka tak setara maka kelemahan yang dirasakan adalah pertemuan – pertemuan tiada akhir yang tak berujung. Kurangnya ketegasan atau keberanian untuk mengambil keputusan langsung saat keadaan mulai menghadapi kebuntuan akan mengakibatkan permasalahan tak kunjung selesai. Sehingga emosi setiap anggota takkan mudah untuk diarahkan untuk kebersamaan hingga dapat terjadi konflik akibat tak kunjung terlihatnya sinar terang jalan keluar.


5. Pacesetting

Tipe kepemimpinan ini menuntut kesempurnaan. Ia akan menetapkan standar yang sangat tinggi dan mencontohkan kepada anggotanya bagaimana ia bisa melakukannya dengan baik dan meminta semuanya untuk melakukan hal yang sama. Saat seseorang tak mampu mencapai standar, maka ia akan mungkin digantikan oleh orang baru. Pemimpin tipe ini akan dengan senang hati mengambil alih tugas anggotanya yang tak sesuai sehingga rasa percaya dalam kelompok akan sangat rendah karena ia merasa hanya dia yang mampu mengerjakannya. Para anggota akan merasa tersingkirkan dan kemudian merasa malas hingga akhirnya ia digantikan. Suasana tertekan akan menjadi tema dalam lingkungan organisasi dengan pemimpin pacesetting.

Pemimpin jenis ini membutuhkan anggota yang dapat memotivasi dirinya sendiri untuk melangkah dan mendapatkan standar tinggi yang diharapkan. Dengan demikian organisasi akan bergerak dinamis dan setiap standar yang ditetapkan akan menjadi sebuah lecutan untuk terus meningkatkan kemampuan dan pemikiran yang sesuai. Yup, setiap kepemimpinan memiliki cirri dan kesesuaian dengan situasi yang terjadi saat itu.


6. Coaching

Pemimpin dengan gaya ini akan menjadi seorang dirigen dalam sebuah okestra. Ia akan meminta sebuah kesempurnaan dengan cara dan jalan yang ditunjukkan olehnya. Ia membuat orang lain berkembang karena dengan perkembangan orang lain akan membantunya dalam mengembangkan organisasi. Gaya coaching akan menggali kemampuan terpendam anggota, membuatnya sadar akan potensi dan bagaimana caranya untuk mengasah keterampilan tersebut menjadi berkilau dan berharga untuk didapatkan. Mereka memasukkan visi jangka panjang organisasi dalam benak anggota, melibatkan mereka tentang bagaimana cara mencapai tujuan tersebut secara individu dan membantu mereka menemukan kelemahan – kelemahan mereka dan bagaimana memperbaikinya.

Pemimpin tipe ini haruslah memiliki waktu yang luas sehingga penggalian potensi anggota akan berlangsung dengan maksimal dan pada akhirnya mencapai tujuan yang diharapkan. Menyamakan persepsi dan merangsang mereka untuk berbuat akan menjadi sebuah pembicaraan yang panjang dan dilakukan dengan face to face karena bila dilakukan berkelompok akan mengurangi efeknya atau disesuaikan dengan tujuan yang diinginkan.

Setiap kita akan menjadi pemimpin dengan kadar dan tingkatan yang berbeda akan tetapi setiap tingkatan hanya menawarkan tantangan dan kesulitan yang berbeda bagaimana kita mengatasinya adalah dengan cara kita sendiri. Setiap tipe memiliki kelebihan dan kekurangan. Saatnya kita mengintrospeksi diri tipe seperti apakah kita dan tujuan yang akan diraih seperti apa sehingga akan menjadikan setiap langkah kita menjadi lebih baik.

Setiap pemimpin ditandai dengan adanya pengikut. Setiap pemimpin membutuhkan tanggung jawab dan setiap pemimpin haruslah mengambil keputusan. Saat kita berfikir untuk diri sendiri pun, kita menjadi pemimpin untuk diri kita sendiri. Kenali dengan baik tipe anda dan berlarilah dimana bendera finish berkibar.

Jangan bertanding pada permainan yang dirimu sendiri tak tahu bagaimana memainkannya.”
Jangan meminta sesuatu pada orang lain yang kita sendiri tak mampu melakukannya.
Keep hungry, keep Foolish. Karena ilmu adalah Kebutuhan kita


Oleh: Ikan Koki
Sumber: Eko Sumartono
Trainer, Writer, entrepreuner

Penulis Buku “You Are Young Leader”

About us

Powered by Blogger.

Popular Posts

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: setetes.embun810@gmail.com

Our Team Members